EBITDA: Valuasi berdasarkan Arus KasDalam menilai kinerja emiten sering kita hanya melihat kepada laba emiten. Padahal bagi para analis fundamental dalam upaya menghitung valuasi wajar saham, yang diperhatikan justru cash flows (CF). Dalam hal ini, CF yang diperhitungkan adalah aliran kas masuk dan keluar dalam suatu perusahaan selama suatu periode tertentu dan di luar biaya tetap, atau dengan kata lain adalah EBITDA.
Mengapa kita harus mempertimbangkan EBITDA ?
EBITDA per definisi adalah earning before interest, taxes, depreciation and amortization atau laba bersih ditambahkan kembali dengan beban bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi.
Pendapatan dan beban bunga, sebagaimana juga beban pajak, dikeluarkan dari perhitungan EBITDA untuk lebih memfokuskan sisi kinerja operasional perusahaan, dan bukan pada biaya atau laba di luar operasi perusahaan.
Demikian juga dengan depresiasi dan amortisasi. Beban tetap ini termasuk beban non kas, karena perusahaan sesungguhnya tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya itu. Depresiasi hanya merupakan praktek akuntansi untuk mengalokasikan pembelian aktiva tetap (seperti mesin dan gedung) menjadi biaya sepanjang umur manfaatnya. Sama pula halnya dengan amortisasi goodwill, yang timbul dari transaksi akuisisi perusahaan lain dimana lebih besar harga perolehannya dibanding nilai buku.
Maka dalam menilai kinerja emiten akan lebih fair kalau kita melihat pertumbuhan EBITDA-nya dibanding laba bersih, karena akan terhindar dari distorsi praktek akuntansi (yang bisa saja sengaja dilakukan) sebagaimana terjadi dalam laba bersih.
Dari laporan keuangan bagaimana kita mendapatkan EBITDA?
Untuk emiten Indonesia, untuk beban non kas selain datang dari depresiasi dan amortisasi terdapat beban non kas lainnya: laba/rugi selisih kurs. Karena banyaknya emiten yang yang berutang dan bertransaksi dalam mata uang asing, item inilah yang menyebabkan laba bersih emiten sering kali berfluktuasi sehingga harus ditambahkan kembali (jika rugi kurs) atau dikurangkan (jika laba kurs) dari laba bersih dalam kalkulasi EBITDA.
Maka untuk mudahnya dalam mengkalkulasi EBITDA, lihat laporan laba rugi dan dapatkan laba operasi. Dalam laba operasi, yang diperoleh dari laba kotor (penjualan dikurang harga pokok penjualan) dikurangi beban operasi, akan terhindar dari beban dan pendapatan bunga, pajak maupun distorsi rugi atau laba kurs.
Namun dalam laba operasi sudah dimasukkan unsur depresiasi yang dibebankan melalui harga pokok penjualan. Maka mudahnya, tambahkan beban depresiasi ke laba operasi untuk mendapatkan EBITDA.
Lalu darimana kita peroleh nilai beban depresiasi ini?
Dalam laporan tahunan, item beban depresiasi ataupun amortisasi akan dapat dibaca dalam laporan perubahan arus kas. Namun kalau laporan kuartalan yang biasanya tidak disertai laporan perubahan arus kas, kita dapat estimasi dengan menghitung selisih akumulasi penyusutan aktiva tetap tahun berjalan dengan tahun sebelumnya.
Gampangnya :
EBITDA estimasi = laba usaha + beban depresiasi
Baca artikel terkait:
Enterprise value: Mengukur nilai perusahaan
P/E Versus EV/EBITDA
(F)