P/E Versus EV/EBITDAKalau kita sering membaca analisis fundamental saham dari rekomendari para analis saham kita sering menjumpai rasio baik P/E maupun EV/EBITDA. Apakah yang kegunaan keduannya? Dan apa perbedaan kedua rasio tersebut?
Seperti pernah kita bahas dalam artikel tentang P/E atau Price Earning Ratio sebelumnya, rasio P/E berguna untuk menilai murah atau mahalnya suatu saham. Banyak sekali investor hanya mengambil P/E sebagai pembanding dan beranggapan bahwa P/E rendah berarti perusahaan tersebut dijual dengan harga murah. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Sebab seringkali P/E yang rendah dibandingkan industri malah mengindikasikan adanya masalah pada perusahaan tersebut. Selain P/E menjadi kurang relevan menilai kinerja operasional perusahaan karena distorsi angka laba (rugi) bersih akibat penerapan metode akuntansi pada item laba (rugi) ataupun akibat selisih kurs.
Maka sebagai alternatif, para fundamentalis sering menggunakan EV/EBITDA sebagai pengganti P/E. Seperti namanya rasio ini diperloleh dengan membagi EV (Enterprise Value) dengan EBITDA (Earning Before Interest Tax and Depreciation).
EV berusaha untuk mendapatkan valuasi yang wajar terhadap perusahaan dengan rumus:
EV = Kapitalisasi Pasar + Utang Yang Dikenakan Beban Bunga - Kas
Kapitalisasi Pasar = Harga Saham x Jumlah Saham Beredar
Logikanya, EV menilai perusahaan dengan mencari harga pasar dari sisi kiri neraca perusahaan, yaitu nilai ekuitas dan nilai utang, dan kemudian dikurangi posisi kas perusahaan, yang dimaksudkan untuk mencari nilai bersih dari utang tadi. Dengan demikian ukuran EV lebih fair jika dibandingkan harga saham saja dalam memvaluasi harga wajar perusahaan.
EBITDA, yang perdefinisi yaitu laba sebelum (ditambahkan kembali dengan) beban bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi, berusaha mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas yang benar-benar dihasilkan dari aktivitas operasi. Dibandingkan dengan Laba Bersih, EBITDA yang biasanya diambil dari arus kas operasi juga lebih fair dalam mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba karena bebas dari distorsi penerapan metode akuntansi terhadap item laba(rugi).
Dengan demikian, EV/EBITDA dapat digunakan sebagai alternatif P/E dalam mengukur mahal atau murahnya suatu saham dibanding perusahaan lain dalam industri yang sama.