|
 |
| Market View |
 |
 |
Tuesday, October 08, 2002 Prospek IPO ObligasiSepanjang tahun 2002 ini, pasar modal Indonesia mendapatkan emisi obligasi baru dengan jumlah total sekitar Rp 3.6 triliun yang memiliki rata-rata umur obligasi 3.875 tahun dengan rata-rata nilai kupon sebesar 18.28%.
Dengan rata-rata kupon sebesar itu, obligasi-obligasi tersebut mempunyai spread sebesar 2.85% dari rata-rata tingkat bunga SBI di tahun 2002, sehingga seiring dengan makin turunnya tingkat suku bunga SBI maka volume IPO obligasi di tahun 2003 diperkirakan akan jauh lebih tinggi.
Berdasarkan perhitungan kami, dari obligasi yang telah diterbitkan sepanjang tahun 2002, secara rata-rata sejak penerbitan perdana obligasi-obligasi tersebut telah memberikan rata-rata total return (capital gain + coupon) sebesar 11.3%.
Sehubungan dengan itu, sebagai salah satu wahana investasi utama di pasar modal Indonesia, kami melihat paling tidak terdapat tiga faktor yang membuat investasi dengan pembelian obligasi di pasar perdana dapat sangat menguntungkan. Ketiga faktor tersebut adalah :
Arah Suku Bunga : stabil dan diperkirakan masih bisa turunPada awal tahun 2022, tingkat suku bunga SBI masih pada posisi 17.61%, namun secara perlahan tingkat suku bunga SBI terus diturunkan mencapai level 13.06% atau telah turun sebesar 4.55% selama 10 bulan terakhir. Penurunan ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir tahun 2002, didasarkan pada target pemerintah dalam APBN untuk mencapai rata-rata tingkat suku bunga SBI sebesar 14% selama tahun 2002. Secara historis, spread antara SBI dan inflasi hanya sekitar 3% tetapi dalam enam bulan terakhir telah melonjak hingga 6-7%. Bila inflasi stabil di level 10-11%, maka SBI akan bertahan di level 13%-13.5% selama 1 tahun ke depan.
Harga IPO Obligasi : potensi kenaikan besarHarga wajar dalam IPO Obligasi mempunyai spread antara 2%-3%, tergantung pada peringkat dan permintaan dari tingkat bunga SBI, dimana setelah IPO spread tersebut akan cenderung melebar.
Permintaan di Pasar Obligasi : terus meningkatDi tahun 2002 terjadi penurunan permintaan yang sangat signifikan di pasar uang, suatu kondisi yang sangat kondusif bagi pasar obligasi. Sebagai perbandingan pada tahun 1998 tingkat pertumbuhan deposito mencapai 74.36% dimana pada saat itu tingkat rata-rata suku bunga sebesar 49.20%. Selanjutnya tahun 1999 tingkat pertumbuhan deposito 14.36% dan rata-rata suku bunga 22.87%. Tahun 2000 tingkat pertumbuhan deposito 12.76% dan rata-rata suku bunga 12.40%. Tahun 2001 tingkat pertumbuhan deposito 15.41% dan rata-rata suku bunga 16.55% dan di tahun 2002 (YTD) tingkat pertumbuhan deposito 2.76% dan rata-rata suku bunga 15.74%. Disamping itu faktor lain adalah jumlah obligasi yang jatuh tempo pada tahun tertentu. Itulah salah satu penyebab mengapa seluruh obligasi yang ditawarkan di tahun 2002 hampir seluruhnya mengalami kelebihan permintaan. Di tahun 2002 cukup banyak obligasi yang jatuh tempo yaitu sekitar Rp 4.6 triliun meskipun sebagian mengalami default. Di tahun 2003 memang obligasi yang jatuh tempo tidak terlalu besar yaitu hanya sekitar Rp 600 miliar namun di tahun 2004 dan 2005 cukup besar yaitu masing-masing sebesar Rp 2.8 triliun dan Rp 6 triliun. Dengan demikian untuk mengantisipasi tingginya permintaan di tahun 2004-2005, kini adalah saat yang tepat untuk mengumpulkan obligasi mengingat pada IPO tahun depan yield obligasi akan relatif lebih rendah.
|
| | Mail | Print | Fax > This Page | |
 |
| Other Articles Search |
 |
|