Search archives for:


UNTR - Tougher 2Q16 to achieve our forecast

United Tractors (UNTR) – HOLD (Maintain)

Price: Rp14,500 – Target Price: Rp16,700

Sesuai dengan ekspektasi kami, perbaikan kinerja UNTR masih belum terlihat hingga 1Q16. Pada periode tersebut, top line tercatat turun -3.2%QoQ dan -15.4%YoY. Namun demikian, kinerja laba perusahaan tercatat dibawah ekspektasi kami (-55.4%YoY), utamanya disebabkan oleh rugi selisih kurs sebesar Rp398.36miliar. Dari sisi segmentasi usaha juga perbaikan kinerja belum terlihat. Hingga akhir tahun ini kami meyakini perbaikan aktivitas sektor batu bara masih akan cenderung flat. Kami juga belum melakukan perubahan asumsi harga ASP batu bara dan ekspektasi volume penjualan segmen CM, MC maupun Mining. Di sisi lain, berlanjutnya pertumbuhan bisnis konstruksi kami lihat masih belum akan mampu menutup potensi stagnasi kinerja segmen bisnis lainnya. Pencapaian kinerja 1H16 akan menjadi konfirmasi perubahan target harga UNTR. Sambil menanti kinerja operasional bulanan dan laporan keuangan 2Q16 kami masih konsisten dengan rekomendasi HOLD untuk UNTR dengan TP Rp16.700/saham (11.9x PE16E dan 1.5x PBV16E).


 

RALS - Still Sluggish

Ramayana Lestari Sentosa (RALS) – HOLD (Maintain)

Price: Rp690 – Target Price: Rp700

RALS telah mengeluarkan laporan keuangan 1Q16, dan pada periode ini, kinerja secara keseluruhan tercatat kurang memuaskan, dengan penjualan hanya tercatat Rp1.09 triliun (1Q15: Rp1.12 triliun) dan laba bersih juga hanya  tercatat sebesar Rp9.0 miliar, di bawah eskpektasi kami dan konsensus, meskipun angka tersebut naik dari periode yang sama tahun lalu (1Q15: Rp5.5 miliar). Kami melihat, daya beli masyarakat terutama di luar pulau Jawa yang belum sepenuhnya pulih menjadi penyebab utama belum membaiknya kinerja RALS. Dengan strategi yang kurang ekspansif dan ekonomi Indonesia yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan secara signifikan, kami mengurangi target rata – rata pertumbuhan penjualan untuk ‘16E menjadi 3.5%YoY (perkiraan sebelumnya: 4.5%YoY). Tetap HOLD untuk RALS dengan TP Rp700/lembar saham.

BBRI - Lending rate to decline

Bank Rakyat Indonesia (BBRI) – HOLD (Downgrade)

Price: Rp10,350 – Target Price: Rp11,500

BBRI membukukan kinerja 1Q16 yang sesuai ekspektasi ditopang oleh peningkatan kredit yang relatif kuat dan penurunan cost of fund akibat perbaikan CASA ratio, sementara kualitas aset sedikit memburuk. Sesuai arahan OJK, kami melihat adanya tren penurunan NIM dan suku bunga kredit ke depannya. Dalam jangka panjang hal ini diperkirakan akan diimbangi dengan kenaikan volume kredit, tetapi dalam jangka pendek hingga menengah bisa menekan profitabilitas. Kami menurunkan target price menjadi Rp 11.500  (2,2x PBV 2016F). Hold.

 

JPFA - Still Expecting Further Swing

Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) – BUY (Maintain)

Price: Rp925 – Target Price: Rp1,150

Pada 1Q16, JPFA membukukan laba bersih sebesar Rp272 miliar, di atas ekspektasi kami, dan jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu yang mencatatkan rugi bersih Rp222 miliar. Kenaikan tersebut turut ditunjang naiknya top line dan laba kurs, mengikuti tren penguatan nilai tukar Rupiah. Seluruh segmen bisnis JPFA mengalami pertumbuhan, didorong oleh lebih kondusifnya sektor poultry di Indonesia, seiring dengan lebih baiknya harga DOC dan Broilers, jika dibandingkan dengan 1Q15. Kami tetap optimis terhadap sektor poultry dan JPFA pada khususnya, terlebih dengan valuasi yang relatif masih murah, kami menaikkan TP menjadi Rp 1,150/lembar saham. Dengan potensi sebesar 24.3% dari harga sekarang ini, kami masih mempertahankan rekomendasi BELI untuk saham JPFA.


AKRA - Still Cautious

AKR Corporindo (AKRA) – HOLD (Maintain)

Price: Rp6,500 – Target Price: Rp7,000

AKRA telah merilis kinerja 1Q16 dan kami telah menghadiri Analyst Meeting yang digelar pada tanggal 28 April 2016 kemarin. Rendahnya harga minyak dunia menyebabkan pendapatan mengalami penurunan sebesar 26%YoY, sehingga turunnya beban keuangan perusahaan tidak mampu menutupi turunnya level top line. Akibatnya, laba bersih pada 1Q16 hanya mencapai Rp255 miliar (1Q15: Rp295 miliar), dan berada di bawah estimasi kami. Kami belum yakin sepenuhnya terhadap kinerja perusahaan dari segi pertumbuhan volume penjualan untuk tahun ini, terutama mengenai kemampuan segmen distribusi BBM ritel untuk menggantikan segmen BBM untuk industri yang mengalami penurunan volume penjualan, setelah beberapa pemain dari sektor pertambangan batu bara seperti Asmin Koalindo Tuhup (AKT) mengalami proses pemberhentian produksi. Dengan kurangnya katalis positif serta potensi upside yang terbatas (hanya 8% dari harga sekarang), kami merekomendasikan HOLD untuk saham AKRA.